eko

Archive for May, 2008

MENGINTEGRASIKAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) KE DALAM PROSES PEMBELAJARAN

In referensi bk on May 31, 2008 at 7:31 pm

MENGINTEGRASIKAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) KE DALAM PROSES PEMBELAJARAN:

Apa, Mengapa dan Bagaimana?

Abstrak

Hidup dalam era informasi di abad 21 ini merupakan kenyataan. Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan era global saat ini. Untuk mendorong kesiapan SDM di era global melalui pendidikan di sekolah, pengintegrasian TIK ke dalam proses pembelajaran perlu dilakukan untuk 1) mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa; 2) mengembangkan keterampilan dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi (ICT literacy) itu sendiri; dan 3) untuk meningkatkan efektifitas, efisiensi dan kemenarikan proses pembelajaran. Dalam prakteknya, belum semua guru memahami apa yang dimaksud dengan mengintegrasikan TIK ke dalam proses pembelajaran. Makalh ini memaparkan tentang apa, mengapa dan bagaimana integrasi Read the rest of this entry »

Teori Perkembangan Anak – Erickson dan Gardner

In psikologi on May 31, 2008 at 6:06 pm

Teori Perkembangan Anak – Erickson dan Gardner

Pendapat Piaget dan Vigotsky ini perlu diakomodasi untuk saling melengkapi. Rancangan kegiatan perlu dibagi dimana ada saat anak diberi kesempatan menemukan dan membangun pemahamannya (discovery learning), tetapi guru tetap harus berperan memperluas dan meningkatkan efektifitas belajarnya dengan bantuan arahan yang tepat (scaffolding) sehingga anak dapat meningkatkan ZPD untuk menjadi daerah kemampuan aktualnya. Selain itu perlunya menunggu kesiapan anak dari Piaget dan pemberian bantuan dari orang dewasa untuk meningkatkan kemampuan anak jangan dipandang sebagai sesuatu yang kontradiktif, tetapi dipahami sebagai batasan dalam menetapkan kriteria Developmentally Appropriate Practice. Pendidik Read the rest of this entry »

INOVASI PEMBELAJARAN MIPA DI SEKOLAH DAN ALTERNATIF IMPLEMENTASINYA Cooperative Learning (Pembelajaran Kooperatif)

In referensi bk on May 31, 2008 at 6:03 pm

INOVASI PEMBELAJARAN MIPA DI SEKOLAH DAN ALTERNATIF IMPLEMENTASINYA

Cooperative Learning (Pembelajaran Kooperatif)

Pada Cooperative Learning siswa bekerja bersama-sama dalam team yang beranggotakan 4 atau 5 siswa. Cooperative Learning is a succesful teaching strategy in wich small teams, each with students of different levels of ability, use a variety of learning activities to improve the understanding of a subject. Each members of a team is responsible not only for learning what is taught but also for helping teammates learn, yhus creatung an atmosphere of achievement. (http://www.ed.gov). Pada definisi tersebut terkandung pengertian bahwa dalam belajar kooperatif

banyaknya anggota kelompok kecil, kemampuan anggota-anggota kelompok yang berbeda, menggunakan aktivitas belajar yang bervariasi untuk meningkatkan pemahaman diri. Setiap anggota kelompok tidak hanya bertanggung jawab pada belajar sendiri tetapi juga membantu teman satu team yang lain dalam belajar, sehingga tercipta suasana sukses. Read the rest of this entry »

Penelitian Tindakan Kelas—Bentuk dan Skenario Tindakan, Serta Pengembangan Instrumen untuk Mengukur Keberhasilan Tindakan

In referensi bk on May 31, 2008 at 5:58 pm

Penelitian Tindakan Kelas—Bentuk dan Skenario Tindakan, Serta Pengembangan Instrumen untuk Mengukur Keberhasilan Tindakan

Oleh: Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D. dan Dr. Kisyani Laksono

Bentuk dan Skenario Tindakan


Gagas pendapat perlu dilakukan mengenai tindakan apa saja yang dapat memecahkan masalah yang dihadapi akan menghasilkan banyak alternatif tindakan yang dapat dipilih. Dosen dan guru perlu membahas bentuk dan macam tindakan (atau tindakan-tindakan) apa yang kira-kira paling dikehendaki untuk dicoba dan dilaksanakan dalam kelas. Bentuk dan macam tindakan ini kemudian dimasukkan dalam judul usulan penelitian yang akan disusun bersama oleh dosen dan guru. Tindakan yang dipilih dapat disebutkan sebagai suatu nama tindakan (misalnya penugasan siswa membaca materi pelajaran 10 menit sebelum pembelajaran) atau dalam bentuk penggunaan salah satu bentuk media pembelajaran (misalnya penggunaan peta konsep, penggunaan lingkungan sekitar sekolah,
Read the rest of this entry »

PTK ( Penelitian Tindakan Kelas )—Butir-Butir Penting.

In referensi bk on May 31, 2008 at 5:51 pm
PTK ( Penelitian Tindakan Kelas )—Butir-Butir Penting.
Karakteristik PTK :

1. On the job problem oriented
2. Problem Solving oriented
3. Improvement oriented
4. Multidata oriented
5. Partisipatory oriented
6. Siklus: (1) perencanaan atau planning, (2) pelaksanaan tindakan atau acting, dan (3) pengamatan dan refleksi atau observasing-reflekting.
Read the rest of this entry »

Penelitian Tindakan Kelas—Diagnosis dan Penetapan Masalah

In referensi bk on May 31, 2008 at 5:49 pm

Penelitian Tindakan Kelas—Diagnosis dan Penetapan Masalah

Oleh: Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D. dan Dr. Kisyani Laksono


Masalah PTK yang merupakan penelitian kolaborasi antara dosen dan guru di sekolah hendaknya berasal dari persoalan-persoalan praktis yang dihadapi guru di kelas. Oleh karena itu, diagnosis masalah hendaknya tidak dilakukan oleh dosen lalu ”ditawarkan” kepada guru untuk dipecahkan tetapi sebaiknya dilakukan bersama-sama oleh dosen dan guru. Pada kenyataannya dosen dapat mengajak guru untuk berkolaborasi melakukan PTK dan menanyakan masalah-masalah apa yang dihadapi guru yang mungkin dapat diteliti melalui PTK. Guru yang telah berpengalaman melakukan penelitian tindakan kelas mungkin dapat langsung mengatakan permasalahan yang dihadapinya yang mungkin dapat diteliti bersama dan kemudian membahas masalah tersebut dengan dosen.
Read the rest of this entry »

PENELITIAN TINDAKAN KELAS—PROSEDUR ANALISIS DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN

In referensi bk on May 31, 2008 at 5:47 pm

PENELITIAN TINDAKAN KELAS—PROSEDUR ANALISIS DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN
Oleh: Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D. dan Dr. Kisyani Laksono


Dalam PTK, perhatian lebih kepada kasus daripada sampel. Hal ini berimplikasi bahwa metodologi yang dipakai lebih dapat diterapkan terhadap pemahaman situasi problematik daripada atas dasar prediksi di dalam parameter.

Analisis Data Penelitian
Tahap-tahap analisis data penelitian meliputi:
a. validasi hipotesis dengan menggunakan teknik yang sesuai (saturasi, triangulasi, atau jika memang perlu uji statistik);
b. interpretasi dengan acuan teori, menumbuhkan praktik, atau pendapat guru;
c. tindakan untuk perbaikan lebih lanjut yang juga dimonitor dengan teknik penelitian kelas.
Analisis dilakukan dengan menggunakan hasil pengumpulan informasi yang telah dilakukan dalam tahap pengumpulan data. Misalnya, dengan memutar kembali hasil rekaman proses pembelajaran dengan video tape recorder guru mengamati kegiatan mengajarnya dan membahas masalah-masalah yang menjadi Read the rest of this entry »

Pengembangan Profesi Guru dan Karya Tulis Ilmiah

In referensi bk on May 31, 2008 at 5:43 pm

Pengembangan Profesi Guru dan Karya Tulis Ilmiah

(Disajikan pada Temu Konsultasi dalam Rangka Koordinasi dan Pembinaan Kepegawaian Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Departemen Pendidikan Nasional, Biro Kepegawaian, Griya Astuti Nopember 2006

Oleh : Suhardjono

(Anggota tim penilai Karya Tulis Ilmiah guru dan pengawas.)

Pengantar

Kiranya, kita sependapat bahwa tenaga kependidikan memegang peran dalam mencerdaskan bangsa—pada sajian ini, guru digunakan sebagai acuan bahasan, namun demikian berbagai kebijakan umumnya juga berlaku bagi pengawas, penilik maupun pamong belajar. Karena itu, berbagai kebijakan kegiatan telah dan akan terus dilakukan untuk meningkatkan: karir, mutu, penghargaan, dan kesejahteraannya. Harapannya, mereka akan lebih mampu bekerja sebagai tenaga profesional 3 dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya. Salah satu kebijakan penting adalah dikaitkannya promosi kenaikan pangkat/jabatan guru dengan prestasi kerja. Prestasi kerja guru tersebut, sesuai dengan tupoksinya, berada dalam bidang kegiatannya: (1) Read the rest of this entry »

Motivasi Belajar, Teori Kebutuhan Maslow dan Aktualisasi Diri serta Implikasinya pada Pendidikan

In psikologi on May 31, 2008 at 5:41 pm

Motivasi Belajar, Teori Kebutuhan Maslow dan Aktualisasi Diri serta Implikasinya pada Pendidikan

Teori Kebutuhan Maslow, termasuk konsep aktualisasi diri yang ia definisikan sebagai keinginan untuk mewujudkan kemampuan diri atau “keinginan untuk menjadi apapun yang seseorang mampu untuk mencapainya.”. Aktualisasi diri ditandai dengan penerimaan diri dan orang lain, spontanitas, keterbukaan, hubungan dengan orang lain yang relatif dekat dan demokratis, kreativitas, humoris, dan mandiri—pada dasarnya, memiliki kesehatan mental yang bagus atau sehat secara psikologis. Maslow menempatkan Read the rest of this entry »

Motivasi Belajar dan Teori Kepribadian

In psikologi on May 31, 2008 at 5:22 pm

Motivasi Belajar dan Teori Kepribadian

Kata motivasi digunakan untuk mendeskripsikan suatu dorongan, kebutuhan atau keinginan untuk melakukan sesuatu. Orang dapat termotivasi makan apabila sedang lapar, pergi ke mall hari ini, mendapatkan nilai IPS yang lebih baik semester ini, atau memperbaiki kondisi lingkungan hidup di sekitar rumah tinggal mereka. Dengan kata lain, kata motivasi dapat dikenakan pada perilaku dalam suatu ragam atau rentang situasi yang sangat luas. Read the rest of this entry »

Motivasi Belajar dan Teori Perilaku (Bandura)

In psikologi on May 31, 2008 at 5:20 pm

Motivasi Belajar dan Teori Perilaku (Bandura)

Konsep motivasi belajar berkaitan erat dengan prinsip bahwa perilaku yang memperoleh penguatan (reinforcement) di masa lalu lebih memiliki kemungkinan diulang dibandingkan dengan perilaku yang tidak memperoleh penguatan atau perilaku yang terkena hukuman (punishment). Dalam kenyataannya, daripada membahas konsep motivasi belajar, penganut teori perilaku lebih memfokuskan pada seberapa jauh siswa telah belajar untuk mengerjakan pekerjaan sekolah dalam rangka mendapatkan hasil yang diinginkan (Bandura, 1986 dan Wielkeiwicks, 1995). Read the rest of this entry »

Motivasi Belajar dan Teori Disonan Kognitif serta Implikasinya dalam Pendidikan

In psikologi on May 31, 2008 at 5:18 pm

Motivasi Belajar dan Teori Disonan Kognitif serta Implikasinya dalam Pendidikan

Kebutuhan untuk mempertahankan gambaran diri positif merupakan suatu motivator yang kuat, Covington: 1984. Banyak dari perilaku kita yang diarahkan menuju pemenuhan standar pribadi diri kita sendiri. Sebagai misal, apabila kita yakin bahwa kita adalah orang baik dan jujur, maka kita cenderung berbuat baik dan jujur meskipun apabila tidak ada orang yang memperhatikan, karena kita ingin mempertahankan gambaran diri positif. Apabila kita yakin mampu dan cerdas kita akan mencoba untuk memuaskan diri kita sendiri bahwa kita telah berperilaku cerdas dalam situasi pencapaian hasil kerja. Read the rest of this entry »

Motivasi Belajar—Definisi

In psikologi on May 31, 2008 at 5:17 pm

Motivasi BelajarDefinisi

Teori Kebutuhan Maslow, termasuk konsep aktualisasi diri yang ia definisikan sebagai keinginan untuk mewujudkan kemampuan diri atau “keinginan untuk menjadi apapun yang seseorang mampu untuk mencapainya.”. Aktualisasi diri ditandai dengan penerimaan diri dan orang lain, spontanitas, keterbukaan, hubungan dengan orang lain yang relatif dekat dan demokratis, kreativitas, humoris, dan mandiri—pada dasarnya, memiliki kesehatan mental yang bagus atau sehat secara psikologis. Maslow menempatkan Read the rest of this entry »

5 Konsep Penting Motivasi Belajar

In psikologi on May 31, 2008 at 5:15 pm

5 Konsep Penting Motivasi Belajar

Pertama

Motivasi belajar adalah proses internal yang mengaktifkan, memandu dan mempertahankan perilaku dari waktu ke waktu. Individu termotivasi karena berbagai alasan yang berbeda, dengan intensitas yang berbeda. Sebagai misal, seorang siswa dapat tinggi motivasinya untuk menghadapi tes ilmu sosial dengantujuan mendapatkan nilai tinggi (motivasi ekstrinsik) dan tinggi motivasinya menghadapi tes matematika karena tertarik dengan mata pelajaran tersebut (motivasi intrinsik). Read the rest of this entry »

Motivasi Belajar dan Teori Kebutuhan (Maslow)

In psikologi on May 31, 2008 at 5:10 pm

Motivasi Belajar dan Teori Kebutuhan (Maslow)

Sementara para ahli teori perilaku (Bandura, 1986 ; Skinner, 1953 ) berbicara perihal motivasi belajar untuk mendapatkan penguatan (reinforcement) dan menghindari hukuman (punishment), para ahli teori motivasi yang lain seperti Maslow, 1954, lebih menyukai konsep motivasi belajar untuk memenuhi kebutuhan. Beberapa kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh kita semua adalah makanan, rasa aman, cinta, dan pemeliharaan harga diri positif. Manusia berbeda dalam tingkat pentingnya mereka menaruh perhatian terhadap tiap-tiap kebutuhan itu. Sebagian orang terus-menerus membutuhkan kepastian bahwa dirinya dicintai dan dihargai; sementara itu yang lain memiliki kebutuhan lebih besar untuk kenyamanan fisik dan rasa aman. Di samping itu, orang yang sama memiliki kebutuhan berbeda pada waktu yang berbeda; segelas air akan jauh lebih disukai saat ditawarkan setelah lari 5000 meter daripada saat ditawarkan setelah selesai makan makanan ringan. Read the rest of this entry »

Ekonomi Token, Tips mendidik anak Kreatif

In referensi bk on May 18, 2008 at 4:51 am

ToKen EcOnomIeS VerSi Doc. << LeBIh BaGus..BiSa NgeDit
Seorang Guru atau pasangan suami istri, seringkali merasa kebingungan bagaimana harus mengontrol perilaku anak. Kadang kali guru dan orang tua merasa frustasi dengan tingkah laku anak. Mereka sungguh kebingungan bagaimana cara menghentikan perilaku negatif anak. Sering dijumpai reaksi guru atau orang tua yang muncul adalah membentak, menaikan tekanan suara, berteriak, bahkan melakukan kekerasan fisik pada anak misalnya mencubit, menampar, menarik rambut, memukul atau menekan bagian tubuh anak dengan kencang dan berbagai tindak keras lainnya. Tindak kekerasan ini baik secara fisik ataupun mental kini dikenal sebagai bullying. Dan di Indonesia tindakan ini sudah dipikirkan sebagai tindakan melanggar hukum.

Anak masih belajar mana hal yang baik dan mana hal yang buruk. Apabila kita hanya memberikan reaksi negatif saja pada anak maka banyak resiko dan dampak buruk yang yang akan muncul. Mulai self-concept, percaya diri, self-efficacy akan menjadi lemah, menjadi agresif ; berperilaku keras pada lingkungannya, mengalami hambatan yang serius dalam perkembangannya dan bisa jadi anak akan mengalami gangguan jiwa apabila terus menerus mengalami kekerasan mental maupun fisik.

Anak juga perlu dihargai, layaknya seperti kita merasa perlu dihargai atas pekerjaan atau perilaku baik yang kita lakukan (golden rules), kita sering berpikir kita ingin diperlakukan orang seperti kita memperlakukan orang dengan baik, begitu pula anak-anak juga ingin dihargai diberikan penguatan.

Pola didik guru dan orang tua di Indonesia menurut saya masih dibilang primitif karena sikap guru dan orang tua masih reaktif menanggapi perilaku anak dengan perilaku yang tanpa dipikirkan lebih jauh lagi. Apabila saat ini generasi Indonesia dibilang tidak kompetitif dengan negara lain ini juga karena pengaruh pola didik yang masih primitif, sehingga kualitas soft-skiil masih tertinggal karena sisi afektif anak tidak pernah diperhatikan dengan baik.

Tentu kita ingin menyelamatkan anak dan bangsa kita, dengan salah satu teknik Token Economies kita dapat mendidik dengan baik. Namun sebelumnya kita perlu tahu apa, dan bagaimana serta hal-hal yang perlu diketahui mengenai Token-Economies.

Definisi Token Economies

Token Economies merupakan suatu wujud modifikasi perilaku yang dirancang untuk meningkatkan perilaku yang diinginkan dan pengurangan perilaku yang tidak diinginkan dengan pemakaian Tokens (tanda-tanda). Individu menerima token cepat setelah mempertunjukkan perilaku yang diinginkan. Token itu dikumpulkan dan yang dipertukarkan dengan suatu obyek atau kehormatan yang penuh arti.

Secara singkatnya Token Ekonomi merupakan sebuah system reinforcement untuk perilaku yang dikelola dan diubah, seseorang mesti dihadiahi/diberikan penguatan untuk meningkatkan atau mengurangi perilaku yang diinginkan.

Tujuan

Tujuan yang utama suatu Token Economies untuk meningkatkan perilaku yang diinginkan dan perilaku pengurangan yang tidak diinginkan. Sering kali Token Economies digunakan di dalam pengaturan dalam sebuah lembaga (seperti rumah sakit jiwa atau fasilits rehabilitasi) untuk mengatur perilaku dari individu yang bisa tak dapat diramalkan atau agresif. Bagaimanapun, tujuan yang lebih utama dari Token Economies untuk mengajar perilaku yang sesuai dan ketrampilan-ketrampilan sosial yang dapat digunakan dalam satu lingkungan yang alami (wajar).

Pendidikan khusus (untuk anak-anak dengan pengembangan atau belajar cacat-cacat, hiperaktivitas, kurangnya perhatian, atau kekacauan-kekacauan tingkah laku), pendidikan regular/ umum, perguruan tinggi, berbagai jenis-jenis dari rumah-rumah kelompok, divisi-divisi militer, rawatan rumah, program panti rehabilitasi, pengaturan-pengaturan jabatan, keluarga (perkawinan atau berbagai kesulitan orangtua), dan rumah sakit dapat juga menggunakan Token Economies. Token Economies dapat digunakan secara individu atau di dalam kelompok-kelompok.

Uraian/Penjelasan

Beberapa unsur-unsur yang perlu diperhatikan di dalam Token Economies:

  1. Tokens: Semua hal yang dapat dihitung dan kelihatan dapat digunakan sebagai suatu token. Token diutamakan yang disukai, menarik, mudah untuk dibawa/dibagikan, dan juga sulit untuk dipalsu. Biasanya menggunakan materi termasuk chip poker, stiker-stiker, objek jumlah, kelereng atau uang permainan. Ketika perorangan tampilkan perilaku yang diinginkan, dia dengan segera diberi suatusejumlah tokens. token tidak memiliki nilai yang berarti. Namun token dikumpulkan dan kemudian dipertukarkan untuk suatu objek yang penuh arti, kehormatan-kehormatan atau aktivitas. Individu dapat juga kehilang token (kompensasi/denda) karena menunjukkan perilaku yang tidak diinginkan.
  2. Suatu target perilaku jelas dan nyata: Individu yang mengambil bagian di suatu Token Economies perlu untuk mengetahui persisnya apa yang mereka harus lakukan supaya menerima token Perilaku yang tidak diinginkan dan yang diinginkan dijelaskan sebelum waktu yang ditetapkan di dalam terminologi yang sederhana dan spesifik. Banyaknya token diberikan atau yang diambil untuk masing-masing perilaku tertentu juga ditetapkan dan dijelaskan sebelumnya.
  3. Motif-motif Penguat/Back-up Reinforcers: Motivasi penguat adalah object yang penuh arti, kehormatan-kehormatan, atau individu menerima aktivitas sebagai pertukaran dengan token yang mereka peroleh. Token dapat berupa mainan-mainan, waktu tambahan, atau tamasya/aktivitas diluar. kesuksesan dari suatu token economy bergantung pada pesona(tawaran menarik/kenikmatan) dari motif-motif penguat. Individu akan hanya termotivasi untuk mendapatkan token jika mereka mengetahui bentuk penghargaan di masa depan yang diwakili oleh tanda-tanda yang mereka terima. Suatu token economy yang dirancang akan baik dengan penggunaan motif-motif penguat yang dipilih oleh individu sendiri dibanding oleh yang dipilih staf.
  4. Suatu sistim yang digunakan untuk menukarkan token: perlu untuk difasilitasi suatu waktu dan tempat untuk menukarkan motif-motif penguat. Token menghargai dari tiap motif penguat ditentukan didasarkan pada nilai keuangan, permintaan, atau nilai terapik. Sebagai contoh, jika motif penguat itu adalah mahal atau sangat menarik, nilai token harus yang lebih tinggi. Jika nilai token diatur/tetapkan terlalu rendah, maka individu akan lebih sedikit yang termotivasi untuk mendapatkan token. Dan sebaliknya, jika nilai itu diatur terlalu tinggi, individu akan merasa takut atau ragu dalam mendapatkan token. Adalah penting untuk masing-masing individu dapat memeperoleh sedikitnya beberapa token.
  5. Suatu sistim untuk merekam data: Sebelum treatmen mulai, informasi (data umum) dikumpulkan tentang masing-masing perilaku yang dilakukan oleh individu. Perubahan perilaku kemudian direkam di lembar data keseharian. Informasi ini digunakan untuk mengukur kemajuan individu dan efektivitas dari token economy. Informasi mengenai pertukaran dari token juga perlu untuk direkam/catat.
  6. Implementasi konsistensi token economy oleh staf: Dalam suatu proses token economy untuk berhasil, semua fasilitator yang dilibatkan harus memberi penghargaan perilaku-perilaku yang sama, menggunakan jumlah yang sesuai dari token, menghindari motif penguat dibagikan dengan bebas, dan mencegah token dari pemalsua, mencuri, atau diperoleh secara tidak adil. Tanggung-jawab staf dan ketentuan-ketentuan token economy harus dijelaskan di suatu manual tertulis. staf juga perlu dievaluasi pada waktu tertentu dan diberi peluang itu untuk bertanya atau berpendapat.

Pada awalnya tanda-tanda sering diberikan dan di dalam sejumlah yang lebih tinggi, tetapi individu belajar untuk menunjukan perilaku yang diinginkan, lambat laun peluang untuk mendapatkan token dikurangi secara bertahap. (Jumlah dan frekuensi dari pembagian token disebut suatu jadwal penguatan). Misalnya di suatu kelas, masing-masing siswa boleh mendapatkan 25 sampai 75 token pada hari pertama, sehingga mereka dengan cepat belajar nilai dari token. Kemudian, para siswa boleh mendapatkan 15 sampai 30 tanda per hari. Secara berangsur-angsur mengurangi ketersediaan token (memudar), para siswa perlu belajar untuk tampilkan perilaku yang diinginkan dengan mandiri, tanpa pengaruh yang tidak wajar akibat penggunaan token. Motif penguat ini akan individu temukan secara normal di dalam masyarakat, seperti pujian lisan, perlu diberikan bersamaan dengan diberikannya token, penanaman perilaku ini dimaksudkan untuk membantu di dalam memudarnya proses token.

Keuntungan dari token economy adalah bahwa perilaku-perilaku yang ditunjukan individu dapat dihargai dengan segera, besarnya reward/hadiah adalah sama nilainya untuk semua individu dalam suatu kelompok, penggunaan dari hukuman (respon costs) lebih sedikit resikonya dibandingkan bentuk-bentuk hukuman yang lain, dan individu dapat belajar ketrampilan-ketrampilan yang berhubungan dengan masa depan. Kerugian-kerugian yang pantas dipertimbangkan dari token economy termasuk biaya, usaha dan pelatihan karyawan dan manajemen. Beberapa para profesional menemukan bahwa token economy bersifat tidak praktis dan memakan waktu.

Resiko

Resiko di dalam token economy adalah sama halnya dengan modifikasi perilaku yang lain. Staff dalam menerapkan treatment itu boleh dengan sengaja atau tidak sengaja dapat tidak memperhatikan apakah individu dengan rela menerima treatment. Token economy tidak perlu merampas(mencabut kebutuhan dasar mereka, seperti makanan yang cukup, selimut yang nyaman, atau peluang layak untuk kesenangan). Jika staff/orang tua tidak terlatih dengan baik bisa terjadi perilaku-perilaku yang diinginkan tidak diberikan rewards token sedangkan perilaku-perilaku yang tidak diinginkan bisa dihadiahi token, kekurangan ini dapat menghasilkan peningkatan perilaku negatif.

Bagaimana memulai Ekonomi Token

Apabila anda merasa perlu menerapkannya, perhatikan langkah-langkah sebagai berikut;

  1. langkah pertama adalah; mengenali dengan jelas tingkah laku yang akan diubah dengan ekonomi token. Ekonomi token dengan sukses mempengaruhi akademik, perilaku sosial dan kemampuan di dalam kelas. Definisikan perilaku tersebut secara spesifik, dapat diamati (observable) dan terukur supaya dapat menjaga konsistensi dalam implementasinya.
  2. Memulai Token

ntuk memulai token, perhatikan;

    1. pilih jenis token yang akan dipakai;

banyak benda yang dapat di pakai sebagai token. kita dapat menggunakan uang mainan, kelereng, kacang, kancing, sticker dan berbagai benda lain. Apabila anda menghadapi anak yang lebih kecil perhatikan keamanan token supaya tidak tidak terjadi anak menelan token atau memasukan dalam hidung atau telinga, maka anda perlu menggunakan objek yang dapat ditempel seperti stiker atau kertas lem. Yang perlu diingat dalam memilih token yaitu mudah untuk dihitung, sulit untuk dipalsukan dan aman untuk digunakan

    1. Pilih Penguat/Hadiah yang ditukar dengan token (reinforcer);

Kemudian kita dapat memilih hadiah yang dapat ditukar dengan token yang telah dkumpulkan. Hadiah ini tidak perlu mahal, uang saku tambahan mungkin atau bisa digunakan adalah waktu santai/ istimewa (privilage). Misalnya dengan memberikan atau membuatkan makanan kesukaan atau boleh menonton acara kesukaan di tivi.

    1. Hitung berapa nilai token untuk suatu perilaku

Kemudian anda perlu mengatur berapa nilai token untuk suatu perilaku yang diinginkan. Misalnya saja apabila di kelas yaitu tidak terlambat berharga 1 token, mengangkat tangan sebelum bertanya bernilai 1 token, atau mengerjakan PR bernilai 2 token, dapat mengerjakan semua soal bernilai 5 token. Apabila untuk orang tua di rumah misalnya membantu membuang sampah bernilai 2 token, membereskan tempat tidur bernilai 3 Token.

Anda dapat pula menerapkan apabila murid/ anak menunjukan perilaku yang negatif anda dapat mengambil sejumlah / sebagian token sebagai bentuk punishment. Namun anda harus memperhatikan perilaku apa yang jelas untuk dijadikan patokan sebagai hukuman.

    1. Berapa harga untuk Hadiah yang akan ditukar dengan token

Anda juga perlu mengatur berapa harga hadiah yang dapat ditukar dengan jumlah token. misalnya saja 100 token dapat ditukar dengan uang saku tambahan sejumlah Rp. 5000, menonton tivi kesukaan senilai 10 token, main game di komputer 10 token. anda perlu mengatur dan menjaga konsistensinya.

    1. Buatlah Bank Token

Anda perlu mengorganisasikan token untuk anak didik atau anak-anak anda. Anda perlu mencatat atau mengorganisasikannya sehingga teratur, oleh karena itu anda membutuhkan Bank Token. Bank Token dapat berbentuk Toples untuk token yang berupa kancing, kelereng, atau hal lain yang tidak dapat ditempel. Bisa pula berupa papan/ kertas yang dapat ditempel bisa pula papan tulis sehingga dapat leluasa mengganti jumlah token. supaya menghindari kecurangan dari anak didik bank token perlu ditempatkan di tempat yang dapat terlihat oleh semua anak.

    1. Tentukan kapan waktu kapan menukar tokennya

Menentukan kapan waktu untuk menukar token yang sudah dikumpulkan anak-anak. Anda perlu membuat kesepakatan dengan anak-anak kapan mereka dapat menukarkan token secara berkala.

  1. Implementasikan Program ini
    1. jelaskan Program Ini

pertama untuk dilakukan adalah anda harus menjelaskan bagaimana program ini akan berkerja, seluruh aspek ekonomi token akan anda jelaskan. Penting anda menjelaskan bagaimana dan kapan program ini akan memberikan dampak positif. Jelaskan pula mana ekonomi token yang akan dilakukan setiap hari dan mana ekonomi token yang berlaku pada waktu yang insidentil atau diperlukan. Hal ini akan memerlukan diskusi yang intens dan hati-hati, perlu juga dilakukan roleplaying untuk mendemonstrasikan program ini.

Apabila anda seorang guru sangat baik apabila orang tua murid mengetahui bagaimana program ini. Karena dukungan orang tua akan sangat mempengaruhi sistem ini bekerja.

    1. Berikan Token beserta Pujian

Saat mengimplementasikan ekonomi token, pujian harus selalu menyertai untuk perilaku positif yang diinginkan. Saat anak menunjukan perilaku yang diinginkan, Token dan pujian harus diberikan dengan cepat dan tidak boleh ditunda.

    1. Kurangi Token dan pertahankan Pujian.

Untuk perilaku baru yang positif token hendaknya diberikan, dengan dasar keterlanjutan. Token dikurangi apabila perilaku tersebut sudah mulai dimiliki oleh anak, namun pujian tetap diberikan sebagai penguatan apabila anak menunjukan perilaku yang benar. Token tetap diberikan untuk perilaku-perilaku baru yang harus dikuasai oleh anak. Hal ini dilakukan supaya anak tidak tergantung pada token sehingga anak dapat belajar pada kehidupan sosial sebenarnya.

    1. Buat Penyesuaian yang dibutuhkan

Untuk menjaga morivasi dan ketertarikan anak sesuaikan harga untuk hadiah yang akan ditukar dengan token, dan sesuaikan target tingkat kesulitan perilakuan. Hal ini perlu dilakukan supaya anak tertantang untuk terlibat dalam ekonomi token. apabila perilaku terlalu mudah atau terlalu sulit maka anak akan tidak termotivasi untuk terlibat aktif dalam program ekonomi token. Anda harus membuat keseimbangan di dalam program token sehingga sesuai dengan kemampuan, ketertarikan, dan motivasi anak-anak.

Beberapa Variasi Teknik

Ekonomi token dapat dimodifikasi atau diperbaiki dengan berbagai variasi yang diperlukan. Beberapa variasi yang dapat ditambahkan yaitu;

  1. Memperbolehkan anak menikmati hadiah (reinforcers) bersama teman sebayanya.
  2. pengelolaan program token ekonomi oleh anak-anak/murid
  3. Kombinasikan program ekonomi token dengan program level kelas. Semakin tinggi kelas maka token, tingkat kesulitan perilaku, dan pengelolaan dapat dikombinasikan dengan level pembinaan dan pendidikannya.
  4. kombinasikan dengan kelompok yang berbeda.

Anda dapat memodifikasi teknik ini sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Token ini membutuhkan ketekunan dan kesabaran, ekonomi token membutuhkan waktu untuk dapat memberikan hasil yang diinginkan. Keterampilan mengelola ekonomi akan terasah dengan baik seiring dengan waktu dan keseriusan dari pelaksanan program.

Namun yang pasti adalah sediakan waktu yang cukup bersama anak anda. Program ini menuntut anda lebih dekat dengan anak/murid anda, program ini tidak akan berjalan tanpa adanya komunikasi yang baik antara guru/orang tua dengan murid/anak.

Semoga teknik ini dapat memperlengkapi kebutuhan anda dalam mendidik anak yang berkualitas.

Saya tahu dalam artikel ini belum sepenuhnya lengkap namun sedikit informasi ini semoga dapat berguna.

Anda boleh mengkopi, menggandakan, menambah, mengurangi, atau menyunting, namun ingat untuk menuliskan penulis dan referensinya.

Referensi:

Jenson, W. R., Sloane, H., & Young, R. (1988). Token economies. Applied behavior

analysis in education: A structured teaching approach. New York: Prentice Hall.

Sulzer-Azaroff, B., & Mayer, G. R. (1996). Applying behavior-analysis procedures with

children and youth. New York: Holt, Rinehart, and Winston.

Alberto, P.A., & Troutman, A. C. (1986). Applied behavior analysis procedures for teachers:

Influencing student performance (4th ed.). Columbus, OH: Charles E. Merrill Publishing.

Walker, H. M., & Buckley, N. (1974). Token reinforcement techniques. Eugene, OR: E-B Press.

sumber : http://obedan.wimamadiun.com/2008/03/05/ekonomi-token-tips-mendidik-anak-kreatif/

jurnal, self-efficacy, penyesuaian diri dan prestasi

In referensi bk on May 18, 2008 at 4:45 am

Penelitian ini tentang hubungan antara self-efficacy, penyesuaian diri dan prestasi akademik mahasiswa.

untuk selengkapnya dapat klik disini

Studi Kasus dalam Bimbingan dan Konseling

In referensi bk on May 18, 2008 at 4:44 am

Oleh : Obed Agung Nugroho, S.Pd

Diktat : Studi Kasus Bimbingan dan Konseling

Dalam era kemajuan informasi dan teknologi, siswa semakin tertekan dan terintimidasi oleh perkembangan dunia akan tetapi belum tentu dimbangi dengan perkembangan karakter dan mental yang mantap.

Seorang Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor mempunyai tugas yaitu membantu siswa untuk mengatasi permasalahan dan hambatan dan dalam perkembangan siswa.

Setiap siswa sebenarnya mempunyai masalah dan sangat variatif. Permasalahan yang dihadapi siswa dapat bersifat pribadi, sosial, belajar, atau karier. Oleh karena keterbatasan kematangan siswa dalam mengenali dan memahami hambatan dan permasalahan yang dihadapi siswa, maka konselor – pihak yang berkompeten – perlu memberikan intervensi. Apabila siswa tidak mendapatkan intervensi, siswa mendapatkan permasalahan yang cukup berat untuk dipecahkan. Konselor sekolah senantiasa diharapkan untuk mengetahui keadaan dan kondisi siswanya secara mendalam.

Untuk mengetahui kondisi dan keadaan siswa banyak metode dan pendekatan yang dapat digunakan, salah satu metode yang dapat digunakan yaitu studi kasus (Case Study). Dalam perkembangannya, oleh karena kompleksitas permasalahan yang dihadapi siswa dan semakin majunya pengembangan teknik-teknik pendukung – seperti hanya teknik pengumpulan data, teknik identifikasi masalah, analisis, interpretasi, dan treatment – metode studi kasus terus diperbarui.

Studi kasus akan mempermudah konselor sekolah untuk membantu memahami kondisi siswa seobyektif mungkin dan sangat mendalam. Membedah permasalahan dan hambatan yang dialami siswa sampai ke akar permasalahan, dan akhirnya konselor dapat menentukan skala prioritas penanganan dan pemecahan masalah bagi siswa tersebut.

Pengertian Studi Kasus

Kamus Psikologi (Kartono dan Gulo, 2000) menyebutkan 2 (dua) pengertian tentang Studi kasus (Case Study) pertama Studi kasus merupakan suatu penelitian (penyelidikan) intensif, mencakup semua informasi relevan terhadap seorang atau beberapa orang biasanya berkenaan dengan satu gejala psikologis tunggal. Kedua studi kasus merupakan informasi-informasi historis atau biografis tentang seorang individu, seringkali mencakup pengalamannya dalam terapi. Terdapat istilah yang berkaitan dengan case study yaitu case history atau disebut riwayat kasus, sejarah kasus. Case history merupakan data yang terimpun yang merekonstruksikan masa lampau seorang individu, dengan tujuan agar orang dapat memahami kesulitan-kesulitannya yang sekarang . serta menolongnya dalam usaha penyesuaian diri (adjustment) (Kartini dan Gulo, 2000).

Berikut ini definisi studi kasus dari beberapa pakar dalam Psikologi dan Bimbingan Konseling, yaitu ;

Studi kasus adalah suatu teknik mempelajari seorang individu secara mendalam untuk membantu memperoleh penyesuaian diri yang lebih baik. (I.Djumhur, 1985).

Studi kasus adalah suatu metode untuk mempelajari keadaan dan perkembangan seorang murid secara mendalam dengan tujuan membantu murid untuk mencapai penyesuaian yang lebih baik (WS. Winkel, 1995).

Studi kasus adalah metode pengumpulan data yang bersifat integrative dan komprehensif. Integrative artinya menggunakan berbagai teknik pendekatan dan bersifat komprehensif yaitu data yang dikumpulkan meliputi seluruh aspek pribadi individu secara lengkap (Dewa Ketut Sukardi, 1983).

Studi kasus merupakan teknik yang paling tepat digunakan dalam pelayanan bimbingan dan konseling karena sifatnya yang komprehensif dan menyeluruh. Studi kasus menggunakan hasil dari bermacam-macam teknik dan alat untuk mengenal siswa sebaik mungkin, merakit dan mengkoordinasikan data yang bermanfaat yang dikumpulkan melalui berbagai alat. Data itu meliputi studi yang hati-hati dan interpretasi data yang berhubungan dan bertalian dengan perkembangan dan problema serta rekomendasi yang tepat.

Jadi berdasarkan pembahasan di atas dapat dikatakan bahwa studi kasus adalah suatu studi atau analisa komprehensif dengan menggunakan berbagai teknik. Bahan dan alat mengenai gejala atau ciri-ciri/karakteristik berbagai jenis masalah atau tingkah laku menyimpang, baik individu maupun kelompok. Analisa itu mencakup aspek-aspek kasus seperti jenis, keluasan dan kedalaman permasalahannya, latar belakang masalah (diagnosis) dan latar depan (prognosis), lingkungan dan kondisi individu/kelompok dan upaya memotivasi terungkapnya masalah kepada guru pembimbing (konselor) sebagai orang yang mengkaji kasus. Data yang telah didapatkan oleh konselor kemudian dinvertaris dan diolah sedemikian rupa hingga mudah untuk diinterpretasi masalah dan hambatan individu dalam penyesuaiannya.

Tujuan Studi Kasus

Studi Kasus diadakan untuk memahami siswa sebagai individu dalam keunikannya dan dalam keseluruhannya. Kemudian dari pemahaman dari siswa yang mendalam, konselor dapat membantu siswa untuk mencapai penyesuaian yang lebih baik. Dengan penyesuian pada diri sendiri serta lingkungannya, sehingga siswa dapat menghadapi permasalahan dan hambatan hidupnya, dan tercipta keselarasan dan kebahagiaan bagi siswa tersebut.

Sasaran Studi kasus

Sasaran studi kasus adalah individu yang menunjukan gejala atau masalah yang serius, sehingga memerlukan bantuan yang serius pula. Yang biasanya dipilih menjadi sasaran bagi suatu studi kasus adalah murid yang menjadi suatu problem (problem case); jadi seorang murid membutuhkan bantuan untuk menyesuaikan diri dengan lebih baik, asal murid itu dalam keadaan sehat rohani/ tidak mengalami gangguan mental.

sumber : http://obedan.wimamadiun.com/studi-kasus-bimbingan-konseling/

Abtraksi Judul Penelitian

In referensi bk on May 11, 2008 at 6:41 am

Eddy Setiadi E

PENGEMBANGAN PROGRAM BIMBINGAN DALAM SISTEM PENDIDIKAN PRASEKOLAH: STUDI KASUS TENTANG PENGEMBANGAN PROGRAM BIMBINGAN UNTUK SISWA TK SALMAN AL-FARISI KOTA BANDUNG

Semakin semaraknya penyelenggaraan pendidikan prasekolah khususnya taman kanak-kanak belakangan ini merupakan suatu fenomena yang mengembirakan. Akan tetapi meningkatnya apresiasi terhadap keberadaan dan urgensi pendidikan prasekolah juga menimbulkan dilema baru, misalnya perbedaan persepsi antara orang tua, pendidik, dan masyarakat secara keseluruhan dalam memaknai esensi dan misi pendidikan prasekolah. Polemik ini akan berpusat pada orientasi pendidikan prasekolah yaitu pendekatan akademik dan non-akademik. Terjadinya polemik semacam itu dikarenakan tidak adanya kesamaan pemahaman orang tua dan pendidik berkenaan dengan peran pendidikan prasekolah. Oleh karena itu guru berperan agar mampu menanamkan kesadaran kepada orang tua mengenai tugas dan peran pendidikan prasekolah dalam meningkatkan kemampuan anak. Pelaksanaan pendidikan Read the rest of this entry »

Statistik Nonparametrik

In Statistik on May 11, 2008 at 6:19 am

Written by Raymond Tambunan

Dalam perkembangan psikologi sebagai ilmu, dalam masa yang sangat panjang, bahkan sampai hari ini, psikologi berusaha agar dapat dipandang sebagai pendekatan yang ilmiah. Dalam atmosfer positivistik, salah satu usaha untuk menjadi lebih ilmiah adalah dengan melakukan pengukuran. Artinya, kualitas-kualitas psikologis manusia dicoba untuk diberikan atribut berupa angka, untuk kemudian diolah secara matematis / statistik.Namun tidak semua kondisi dalam pengukuran psikologi ideal untuk diterapkan pada semua teknik statistik, seperti: Read the rest of this entry »

Kumpulan Bahan Kuliah Statistik

In Statistik, referensi bk on May 11, 2008 at 6:18 am

Untuk anda Mahasiswa atau praktisi Bimbingan Konseling perlu memahami statistik sebagai alat bantu untuk mengambil keputusan dalam penelitian anda, oleh sebab itu saya berusaha membantu anda membuatkan modul statistik yang dapat anda download dan dipelajari secara mandiri. Modul ini merupakan modul mata kuliah statistik milik Program Studi Bimbingan Konseling Universitas Lampung. semoga bermanfaat.

Green Project

In Bimbingan, Statistik, konseling, opini, psikologi, referensi bk, referensiku on May 10, 2008 at 7:17 am

green-new3Green Project adalah sebuah perusahaan pengembang Aplikasi Komputer bagi Profesi Konselor. Visi Misi nya adalah Memajukan Bimbingan Konseling di Indonesia. Green Project sebagai Support iT bagi Profesi Konselor di Indonesia. Semua produknya berorientasi pada aplikasi media komputer dalam membantu Pelaksanaan Layanan Bimbingan dan Konseling. Perusahaan ini juga ikut mendukung program pemerintah menuju Indonesia Go Open Source. Perusahaan ini digagas oleh Eko Susanto Mahasiswa Bimbingan Konseling Universitas Lampung. Kemudian pada tanggal 13 September 2007 Perusahaan ini melakukan Launching website mereka. Bagi Praktisi Bimbingan Konseling yang ingin mengembangkan layanan Bimbingan Konseling berbasis ICT dapat bekerjasama dengan Green Project.
Kunjungi http://konselor.co.cc

Produk-produk yang ditawarkan adalah :
1. Layanan Informasi dan Database Bebasis Web (opensource).
2. Home Page Cybercounseling (situs atau blog untuk Bimbingan dan Konseling Online).
3. Pendampingan dalam mengembangkan media Layanan Bimbingan dan Konseling.
4. Pengembangan Media E-Learning berbasis Flash khusus untuk Bimbingan dan Konseling.
5. Pembuatan Media Presentasi Bimbingan Konseling.
6. Instalasi Counseling Room based ICT.

Kerja samanya selalu kami nanti.

Pengertian Konseling

In konseling on May 4, 2008 at 9:19 am

Pengertian Konseling

Secara Etimologi berasal dari bahasa Latin “consilium “artinya “dengan” atau bersama” yang dirangkai dengan “menerima atau “memahami” . Sedangkan dalam Bahasa Anglo Saxon istilah konseling berasal dari “sellan” yang berarti”menyerahkan” atau “menyampaikan”

…interaksi yang(a)terjadi antara dua orang individu ,masing-masing disebut konselor dan klien ;(b)terjadi dalam suasana yang profesional (c)dilakukan dan dijaga sebagai alat untuk memudah kan perubahan-perubahan dalam tingkah laku klien. (Pepinsky 7 Pepinsky ,dalan Shertzer & Stone,1974) Read the rest of this entry »

INFRASTRUKTUR PENDIDIKAN JARAK JAUH

In referensiku on May 3, 2008 at 5:30 pm
Judul: INFRASTRUKTUR PENDIDIKAN JARAK JAUH
Bahan ini cocok untuk Sekolah Menengah bagian PENDIDIKAN / EDUCATION.
Nama & E-mail (Penulis): Jelarwin Dabutar
Saya Guru di SMK Negeri 1 Laguboti
Topik: TREN PENDIDIKAN
Tanggal: 8 Agustus 2007

INFRASTRUKTUR PENDIDIKAN JARAK JAUH

A. PENDAHULUAN

Kemajuan pesat di bidang teknologi dan komunikasi mengilhami Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) untuk memperkenalkan program pendidikan jarak jauh (PPJJ) atau distance learning. PPJJ dengan cara ini diperkenalkan dalam seminar nasional bertemakan “Peranan Pendidikan dan Pelatihan Terbuka/Jarak Jauh Dalam Menunjang Pelaksanaan Otonomi Daerah.

Kepala Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan (Pustekkom) Depdiknas Arief S. Sadiman mengatakan, upaya PPJJ ini ditempuh karena pendidikan secara konvensional di sekolah-sekolah sudah tak memungkinkan lagi untuk tetap diteruskan, terlebih sejak anggaran pendidikan nasional dipangkas pemerintah pada tahun anggaran ini. Karena itulah dengan menggunakan infrastruktur PPJJ bisa dijadikan alternatif agar pendidikan formal, nonformal, atau di tempat kerja tetap dapat berjalan terus. PPJJ dengan mengaplikasikan cara tersebut biaya mampu ditekan jika masing-masing penyelenggara pendidikan di setiap kabupaten bisa melakukan sinergi dengan PT Telkom selaku pemilik infrastruktur di daerahnya sebagai upaya pengembangan SDM pada otonomi daerah. Tentang tingkat efektivitas PPJJ dengan metode ini, tidak perlu Read the rest of this entry »

Modul Statistik

In Statistik on May 3, 2008 at 4:17 pm

Untuk anda Mahasiswa atau Praktisi Bimbingan Konseling tentu tidak asing dengan Statistik yang biasa digunakan sebagai alat bantu dalam mangambil keputusan, maka dengan ini saya mencoba membantu anda dengan menyediakan Modul Statistik. Modul ini merupakan bahan mata kuliah pada Program Studi Bimbingan Konseling di Universitas Lampung. Semoga bermanfaat semua file disajikan dalam format PDF dan dapat anda download disini. Untuk Download klik disini  materi-statistik2

Psikologi Remaja

In psikologi on May 2, 2008 at 6:12 pm

Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun (dalam Rice, 1990) mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence).

Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.

Menurut Adams & Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Read the rest of this entry »

Tipe Kepribadian Miner

In psikologi on May 2, 2008 at 6:09 pm

Pertanyaan utama yang ingin dijawab oleh tipologi ini adalah, apakah yang dapat membuat seseorang menjadi enterpreuner yang sukses? Jawabannya adalah kesesuaian pekerjaan dengan tipe kepribadian.Miner kemudian mengemukakan 4 tipe kepribadian enterpreuner. Kepribadian yang berbeda ini membedakan pula jenis usaha yang dipilih 4 tipe kepribadian enterpreuner tersebut. Kepribadian tersebut adalah (1) the personal achiever, (2) the supersales person, (3) the real manager, dan (4) the expert idea generation. Read the rest of this entry »

Archetype

In psikologi on May 2, 2008 at 6:04 pm

Terdapat berbagai definisi konseptual mengenai archetype, antara lain:

The invisible patterns in the mind that control how we experience the world” (Pearson, 1991)

Narrative structures, themes,and defineable characters that if achived, give us temporary sense of success, fulfillment, and statisfaction” (Pearson&Marr,2002)

Berdasarkan definisi-definisi di atas, dapat dikatakan bahwa archetype adalah:

struktur, tema, atau karakter utama yang merepresentasikan diri seseorang, yang mempengaruhi cara individu mempersepsikan pengalamannya, yang menggambarkan kebutuhan dasar individu yang berusaha dipenuhi.

Archetype mengkomunikasikan dan mendasari pengekspresian keinginan-keinginan dasar, arti dan tujuan hidup, dan motivasi seseorang, dimana dalam pengekspresiaan tersebut, setiap individu mempunyai gaya, dan kekhasan masing-masing, yang berbeda satu sama lain tergantung archetype yang dominan dan aktif Read the rest of this entry »

Big Five Personality

In psikologi on May 2, 2008 at 6:02 pm

Big Five Personality merupakan pendekatan dalam psikologi kepribadian yang mengelompokan trait kepribadian dengan analisis faktor. Tokoh pelopornya adalah Allport dan Cattell.

Big Five Personality adalah suatu pendekatan yang digunakan dalam psikologi untuk melihat kepribadian manusia melalui trait yang tersusun dalam lima buah domain kepribadian yang telah dibentuk dengan menggunakan analisis faktor. Lima traits kepribadian tersebut adalah extraversion, agreeableness, conscientiousness, neuoriticism, openness to experiences.

Trait-trait dalam domain-domain dari Big Five Personality Costa & McCrae (1997) adalah sebagai berikut.

Extraversion (E)
Faktor pertama adalah extraversion, atau bisa juga disebut faktor dominan-patuh (dominance-submissiveness). Faktor ini merupakan dimensi yang penting dalam kepribadian, dimana Read the rest of this entry »

Kepribadian

In psikologi on May 2, 2008 at 6:01 pm

KEPRIBADIAN menurut Allport adalah:

…sebuah organisasi dinamis di dalam sistem psikis dan fisik individu yang menentukan karakteristik perilaku dan pikirannya.

Sedangkan menurut Pervin dan John:

kepribadian mewakili karakteristik individu yang terdiri dari pola-pola pikiran, perasaan dan perilaku yang konsisten.

Dalam teori-teori kepribadian, kepribadian terdiri dari antara lain trait dan tipe (type). Trait sendiri dijelaskan sebagai konstruk teoritis yang menggambarkan unit/dimensi dasar dari kepribadian. Trait menggambarkan konsistensi respon individu dalam situasi yang berbeda-beda. Sedangkan tipe adalah Read the rest of this entry »

Humanistik

In psikologi on May 2, 2008 at 5:54 pm

Disusun oleh: DR. phil. Hana PanggabeanMuncul sebagai kritik terhadap pandangan tentang manusia yang mekanistik ala behaviorisme dan pesimistik ala psikoanalisa. Oleh karenanya sering disebut sebagai the third force (the first force is behaviorism, the second force is psychoanalysis).

A. Prinsip utama

  • Memahami manusia sebagai suatu totalitas. Oleh karenanya sangat tidak setuju dengan usaha untuk mereduksi manusia, baik ke dalam formula S-R yang sempit dan kaku (behaviorisme) ataupun ke dalam proses fisiologis yang mekanistis. Manusia harus berkembang lebih jauh daripada sekedar Read the rest of this entry »

Gestalt

In psikologi on May 2, 2008 at 5:53 pm

Disusun oleh: DR. phil. Hana Panggabean

Istilah “Gestalt” mengacu pada sebuah objek/figur yang utuh dan berbeda dari penjumlahan bagian-bagiannya.

Aliran Gestalt muncul di Jerman sebagai kritik terhadap strukturalisme Wundt. Pandangan Gestalt menolak analisis dan penguraian jiwa ke dalam elemen-elemen yang lebih kecil karena dengan demikian, makna dari jiwa itu sendiri berubah sebab bentuk kesatuannya juga hilang.

A. Latar Belakang.

  • Kelompok Wuerzburg.

Selain kelompok Wundt, di Jerman berkembang lagi sebuah kelompok intelektual yang ikatannya tidak sekuat kelompok Wundt, namun merasa tidak puas dengan pandangan Wundt. Read the rest of this entry »

Psikoanalisa

In psikologi on May 2, 2008 at 5:52 pm

Disusun oleh: DR. phil. Hana Panggabean

Psikoanalisa dapat dikatakan sebagai aliran psikologi yang paling dikenal meskipun mungkin tidak dipahami seluruhnya. Namun psikoanalisa juga merupakan aliran psikologi yang unik, tidak sama seperti aliran lainnya. Aliran ini juga yang paling banyak pengaruhnya pada bidang lain di luar psikologi, melalui pemikiran Freud.

A.Latar belakang

  • Konsep mental yang aktif.

Konsep ini terutama dianut oleh para ahli di Jerman. Pada waktu ini peran dominan strukturalisme di Jerman telah diambil alih oleh aliran Gestalt. Paham Gestalt menganggap struktur pengorganisasian mental manusia adalah inherent. Struktur ini memungkinkan Read the rest of this entry »

Behaviorisme

In psikologi on May 2, 2008 at 5:50 pm

Disusun oleh: DR. phil. Hana Panggabean

Behaviorisme muncul sebagai kritik lebih lanjut dari strukturalisme Wundt. Meskipun didasari pandangan dan studi ilmiah dari Rusia, aliran ini berkembang di AS, merupakan lanjutan dari fungsionalisme.

Behaviorisme secara keras menolak unsur-unsur kesadaran yang tidak nyata sebagai obyek studi dari psikologi, dan membatasi diri pada studi tentang perilaku yang nyata. Dengan demikian, Behaviorisme tidak setuju dengan penguraian jiwa ke dalam elemen seperti yang dipercayai oleh strukturalism. Berarti juga behaviorisme sudah melangkah lebih jauh dari fungsionalisme yang masih mengakui adanya jiwa dan masih memfokuskan diri pada proses-proses mental. Read the rest of this entry »

Teori Kepribadian 1

In psikologi on May 2, 2008 at 5:46 pm

Disusun oleh: DR. phil. Hana Panggabean

Fungsionalisme

A. Konteks sosial politik dan intelektual AS

  • Pada abad 19, Amerika Serikat (AS) terbelah karena Perang Saudara. Bangsa ini memasuki abad 20 dengan optimisme pasca Perang Saudara, dengan semangat persatuan dan kemakmuran di bidang ekonomi dan politik. AS juga bersiap untuk menjadi negara yang dominan di dunia.
  • Optimisme yang sama juga ada pada dunia akademik, universitas berkembang, para ilmuwan yang kembali dari mencari ilmu di Eropa mulai mengembangkan iklim intelektual di AS.
  • Psikologi masuk ke AS bersamaan dengan optimisme di bidang ekonomi dan akademik ini dan disambut dengan antusias oleh masyarakat AS sebagai ilmu baru yang berprospek cerah.
  • AS banyak menyerap ide pemikiran dari Eropa, contohnya ide tentang empirism, model pemikiran John Locke mengilhami Declaration of Independence, setiap manusia dilahirkan sama dengan hak asasi yang sama. Read the rest of this entry »

Pengertian Psikologi ?

In psikologi on May 2, 2008 at 5:42 pm

Disusun oleh: DR. phil. Hana Panggabean

DEFINISI UMUM PSIKOLOGI :

PSYCHOLOGY…is the scientific study of behavior, both external observable action and internal thought.

Definisi di atas menggambarkan ruang lingkup psikologi.

1. Psychologi is a science.

    • It is defined not by what it is studied, but by how it is studied.
    • Ilmiah, terukur, objektif, dapat digeneralisasi.
    • Seringkali mengesankan bahwa studi psikologi harus bersifat kuantitatif.

2. Not all behavior is directly observable.

    · What kind of behavior ?

    ( berbagai ekspresi tingkah laku: verbal, grafis, motorik/kinestetik).

    · What level of consciousness?

    (conscious, subconscious, unconcious)

    · Whose behavior ?

    (anima vegetativa, anima sensitiva, anima intelektiva).

Selain menggambarkan ruang lingkup, definisi di atas juga menyinggung isu penting mengenai kedudukan psikologi dalam khasanah dunia ilmu: science vs humanities. Read the rest of this entry »

Sejarah Psikologi

In psikologi on May 2, 2008 at 5:40 pm

Sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, psikologi melalui sebuah perjalanan panjang. Bahkan sebelum Wundt mendeklarasiikan laboratoriumnya tahun 1879 – yang dipandang sebagai kelahiran psikologi sebagai ilmu – pandangan tentang manusia dapat ditelusuri jauh ke masa Yunani kuno. Dapat dikatakan bahwa sejarah psikologi sejalan dengan perkembangan intelekstual di Eropa, dan mendapatkan bentuk pragmatisnya di benua Amerika.

Berdasarkan pandangan tersebut, bagian Sejarah Psikologi ini akan dibagi ke dalam beberapa periode dengan berbagai tokohnya. Read the rest of this entry »

Vicarious Trauma

In psikologi on May 2, 2008 at 5:27 pm

Pengertian Vicarious Trauma

Istilah ‘vicarious trauma’ pertama kali dikemukakan oleh McCann dan Pearlman (1990) untuk mendeskripsikan dampak pekerjaan yang berhubungan dengan penanganan trauma bagi seorang terapis. Konsep ini juga digunakan untuk menggambarkan efek trauma klien pada kehidupan terapis. Vicarious trauma (selanjutnya disebut dengan VT) didasari oleh Constructivist Self Development Theory (CSDT). Hipotesis teori ini adalah bahwa manusia memiliki kemampuan yang disebut dengan sumber daya ego, untuk mendukung dan memperkuat stabilitas, persepsi diri dan pandangan mengenai dunia dan dirinya sendiri. Apabila individu menghadapi kejadian traumatis maka pandangannya mengenai dunia akan berubah (Janoff-Bulman dalam Pickett, 1998). Penjelasan tersebut berkaitan dengan kondisi yang dialami oleh para penyedia jasa kemanusiaan atau pekerja kesehatan mental yang seringkali menangani para korban trauma. Kejadian-kejadian traumatis yang dialami korban membuat si terapis menjadi tersadarkan Read the rest of this entry »

Secondary Traumatic Stress

In psikologi on May 2, 2008 at 5:24 pm

Written by Evi Sukmaningrum, Psi., MSi.

Pengertian Secondary Traumatic Stress
Bidang traumatologi (studi mengenai individu yang mengalami trauma) telah mencapai perkembangan yang pesat di akhir dekade ini (Figley, 1995). Salah satu kontribusinya adalah meningkatnya kesadaran bahwa seseorang akan mengalami dampak psikologis yang berat ketika mengalami kejadian yang traumatik. Oleh sebab itu, pada tahun 1980, American Psychiatric Association mempublikasikan adanya diagnosis Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) dalam Diagnostic and Statistic Manual of Mental Disorder (Third Edition) (DSM-III). Diagnosis ini melihat simtom-simtom yang umumnya dialami oleh individu-individu yang mengalami trauma sebagai gangguan psikiatris. PTSD merepresentasikan betapa berbahayanya pengaruh biopsikososial dari pengalaman traumatis.

Konsep PTSD mendorong penelitian-penelitian di bidang traumatologi. Dari ratusan penelitian dilaporkan bahwa ternyata individu yang tergolong mengalami trauma bukan hanya korban trauma itu sendiri (victims) Read the rest of this entry »

Trauma

In psikologi on May 2, 2008 at 5:23 pm

Written by Evi Sukmaningrum, Psi., MSi.

Trauma berasal dari bahasa Yunani yang berarti luka (Cerney, dalam Pickett, 1998). Kata trauma digunakan untuk menggambarkan kejadian atau situasi yang dialami oleh korban. Kejadian atau pengalaman traumatik akan dihayati secara berbeda-beda antara individu yang satu dengan lainnya, sehingga setiap orang akan memiliki reaksi yang berbeda pula pada saat menghadapi kejadian yang traumatik. Pengalaman traumatik adalah suatu kejadian yang dialami atau disaksikan oleh individu, yang mengancam keselamatan dirinya (Lonergan, 1999). Oleh sebab itu, merupakan suatu hal yang wajar ketika seseorang mengalami shock baik Read the rest of this entry »

Kriteria Penulisan item

In Statistik on May 2, 2008 at 5:18 pm

Untuk menuliskan item dengan baik, ada sejumlah kriteria seperti yang dikemukakan oleh Wang (1932), Thurstone (1929), Bird (1940), Edwards dan Kilpatrick (1948). Kriteria tersebut pada awalnya digunakan untuk menyusun skala sikap, namun akan juga membantu untuk menyusun item dari skala lain.

Kriteria-kriteria penulisan item adalah sebagai berikut.

  1. Menghindari pernyataan yang lebih mengarah ke masa lalu, bukan masa sekarang.
  2. Menghindari pernyataan mengenai sesuatu sudah jelas jawabannya.
  3. Menghindari peryataan yang ambigu (memiliki banyak arti).
  4. Menghindari pernyataan yang tidak relevan dengan objek sikap yang dibahas.
  5. Menghindari pernyataan yang didukung oleh hampir semua orang atau hampir tidak ada yang mendukung.
  6. Membuat pernyataan yang dipercaya untuk mencakup secara keseluruhan minat dalam pembuatan skala sikap.
  7. Bahasa yang digunakan dalam sebuah pernyataan harus jelas, sederhana dan langsung.
  8. Pernyataan harus pendek, biasanya tidak lebih dari 20 kata.
  9. Setiap pernyataan haya memliki satu pemikiran saja.
  10. Menghindari pernyataan-peryataan yang mengandung unsur universal dan yang menciptakan ambiguitas, seperti semua, selalu, tidak ada, dan tidak pernah.
  11. Harus memperhatikan pernyataan-pernyataan yang menggunakan kata hanya, cuma, sering/melulu.
  12. Apabila mungkin, pernyataan harus dibuat dengan form kata-kata yang sederhana bukan dengan kata-kata yang menyulitkan.
  13. Menghindari penggunaan kata-kata yang tidak dapat dimengerti oleh responden.
  14. Menghindari pernyataan yang mengandung double negatives.

Analisis item

In Statistik on May 2, 2008 at 5:17 pm

Analisis item adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk menganalisis apakah item-item pada suatu alat tes telah memenuhi fungsinya, yaitu:

  • Mewakili domain tingkah laku
  • Memiliki derajat kesulitan yang tepat
  • Memiliki daya diskriminasi yang maksimal

Menurut Kaplan & Saccuzzo (2005), analisis item adalah kegiatan mengevaluasi item-item alat tes. Dari kegiatan ini diharapkan didesain sebuah alat tes dengan jumlah item minimum, namun reliabilitas dan validitas yang maksimum.

Analisis item dapat dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif.

  • Kualitatif; menyangkut keterwakilan tingkah laku domain menjadi item dalam alat tes (konten dan form)à content validity (menyangkut expert judgement)
  • Kuantitatif; dibagi menjadi item difficulty & item discriminant.
    • item difficulty merupakan presentase (proporsi) orang yang menjawab item dengan benar (P), sedangkan
    • item discriminant adalah perbandingan antara proporsi orang yang menjawab benar dalam kelompok upper dengan proporsi orang yang menjawab benar dalam kelompok lower. Perbedaan proporsi ini disebut sebagai index of discrimination (D).

sumber : http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/analisis-item.html

Reliabilitas

In Statistik on May 2, 2008 at 5:15 pm

Reliabilitas adalah konsistensi alat tes yang dilihat dari skor dan z-score. Mengapa diperlukan kekonsistenan? Karena adanya perubahan-perubahan pada skor dan z-score yang disebabkan oleh ERROR. Terdapat dua macam error yaitu: systematic dan unsystematic error.

Prosedur reliabilitas

Pengujian reliabilitas dengan satu kali administrasi

  • Split half; Pengukuran reliabilitas alat ukur dilakukan dengan cara membelah alat tes tersebut menjadi dua bagian yang ekuivalen. Koefisien reliabilitas diperoleh dengan cara mengkorelasikan skor-skor antar dua belahan (internal consistency). Teknik pengujian reliabilitas dengan teknik ini dibagi menjadi dua, yaitu Rulon dan Spearman Brown.
  • Kuder Richardson; Mengukur konsistensi respon subjek pada item-item tes, sehingga disebut interitem consistency. Errornya disebut content sampling dan content heterogeneity sampling. Teknik pengujian reliabilitas dengan teknik ini dibagi menjadi dua, yaitu KR-20 dan KR-21.
  • Coefficient alpha; Tujuannya sama dengan KR, hanya saja syarat yang harus dipenuhi adalah data yang diperoleh bersifat kontinum dan bukan dikotomi.

Pengujian reliabilitas dengan dua kali administrasi

  1. Tes-retes. Untuk melihat stabilitas atau kekonsistenan alat tes dalam mengukur karakteristik atau trait dengan melaksanakan tes dan pengukuran terdiri lebih dari satu kali (diulang). Koefisien korelasi yang dihasilkan disebut dengan coefficient of stability. Error pada uji reliabilitas dengan teknik ini disebut time sampling error.
  2. Alternate form: immediate alternate form & delayed alternate form. Untuk melihat stabilitas alat tes dalam mengukur trait individu dengan melaksanakan tes dan pengukuran lebih dari satu kali dan menggunakan dua form tes.
    • Immediate: form kedua diberikan langsung setelah form pertama diberikan. Koefisien korelasi yang dihasilkan disebut dengan coefficient of equivalence. Error pada teknik ini disebut sebagai content sampling & human error.
    • Delayed: ada penundaan pemberian form kedua setelah form pertama diberikan. Koefisiennya disebut sebagai coefficient of equivalence & stability. Error pada teknik ini disebut sebagai content sampling, time sampling, & human error.

Interscorer reliability
Tujuan dari uji reliabilitas ini adalah untuk menunjukkan konsistensi skor-skor yang diberikan skorer satu dengan skorer lainnya. Error yang muncul adalah interscorer differences.

sumber : http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/reliabilitas.html

Validitas

In Statistik on May 2, 2008 at 5:14 pm

Validitas adalah ketepatan mengukur konstruk, menyangkut: “what the test measure and how well it does” (Anastasi, 1990), atau “apakah alat tes memenuhi fungsinya sebagai alat ukur psikologis?” (Nunnaly, 1978).

Prosedur validitas

  • Criterion-related validation: memprediksi dan mendiagnosa.

Criterion-related melihat validitas tes dalam memprediksi suatu tingkah laku. Criteria adalah tingkah laku yang hendak diramalkan. Jenis validitas ini dibagi menjadi dua yaitu, predictive dan concurrent. Predictive berguna untuk memprediksi suatu tingkah laku, memvalidasi tes-tes seleksi dan penempatan, yang kriterianya diambil setelah interval waktu tertentu. Concurrent digunakan untuk mendiagnosa suatu tingkah laku terutama kepribadian yang kriterianya diambil bersamaan dengan saat pengetesan.

  • Content-related validation: merepresentasikan materi (domain behavior)

Sejauh mana peneliti yakin bahwa item-item sudah merepresentasikan sample tingkah laku à perlu batasan tingkah laku à definisi operasional à domain. Di dalamnya terdapat expert judgement.

  • Construct related validation: mengukur psychological traits

Melihat sejauh sebuah tes tepat mengukur konstruk atau trait. Beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengukur validitas konstruk:

  1. Perubahan yang dipengaruhi perkembangan
  2. Korelasi dengan alat tes lain, yang dibagi menjadi alat tes baru dengan alat tes lama, dan korelasi alat tes baru dengan alat tes lain.
  3. Analisis factor
  4. Experimental intervention
  5. Human information processing
  6. Internal consistency
  7. Convergent – Discriminant validity

sumber : http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/validitas.html

Norma

In Statistik on May 2, 2008 at 5:12 pm

Norma adalah penyebaran skor-skor dari suatu kelompok yang digunakan sebagai patokan untuk memberi makna pada skor-skor individu. Terdapat dua jenis norma, yaitu:

  1. norma perkembangan; digunakan untuk menginterpretasikan skor-skor pada tes-tes perkembangan. Norma perkembangan dibagi menjadi mental age, basal age, nilai rata-rata yang diperoleh kelompok umur tertentu, skala ordinal, criterion referenced testing, expectancy tables.
  2. norma kelompok (within-group norms); digunakan untuk mengetahui posisi subjek dalam distribusi sample normative. Sample normative adalah skor subjek dibandingkan dengan skor kelompok. Saat peneliti hendak menggambarkan posisi individu dengan cara membandingkan antar kemampuan dan kelompok, raw score harus ditransformasikan ke dalam skala yang sama. Macam-macam skala:
    • percentile rank
    • standard score, yang dibagi menjadi: z-score, t-scale, c-scale, stanine, deviation IQ

sumber : http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/norma.html

Pengukuran

In Statistik on May 2, 2008 at 5:09 pm

Apakah Anda pernah mengisi kuis yang disajikan di majalah-majalah? Atau, yang lebih formal, apakah Anda pernah mengisi kuesioner tentang suatu hal? Atau Anda pernah mengikuti tes psikologi di sekolah, ketika melamar pekerjaan, atau di biro psikologi tertentu?

Nah contoh-contoh itu dapat digolongkan sebagai aktivitas pengukuran psikologi.

Pengukuran itu sendiri, dapat didefinisikan sebagai berikut.

  • measurement is the assignment of numerals to object or events according to rules (Steven, 1946)
  • measurement is rules for assigning numbers to objects in such a way as to represent quantities of attributes (Nunnaly, 1970)

Sedangkan pengukuran psikologi merupakan pengukuran dengan obyek psikologis tertentu. Objek pengukuran psikologi disebut sebagai psychological attributes atau psychological traits, yaitu ciri yang mewarnai atau melandasi perilaku.

Perilaku sendiri merupakan ungkapan atau ekspresi dari ciri tersebut, yang dapat diobservasi. Namun tidak semua hal yang psikologis dapat diobservasi. Oleh karena itu dibutuhkan indikator-indikator yang memberikan tanda tentang Read the rest of this entry »

Metode Kualitatif

In Statistik on May 2, 2008 at 5:05 pm
Written by Raymond Tambunan, Psi., MSos.

Penelitian dalam ilmu-ilmu sosial, selama ini mengenal dua paradigma dalam mendekati masalah. Paradigma ini membantu peneliti dalam memahami tentang fenomena sosial, bagaimana ilmu pengetahuan dapat terbentuk, dan apa yang mempengaruhi masalah, pemecahannya, serta kriteria dari bukti-bukti ilmiah yang ditemukan (Creswell, 1994). Paradigma pertama adalah positivisme dan kedua adalah fenomenologis (Taylor & Bogdan, 1984; Dooley, 1984; Orford, 1992). Pada paradigma pertama, pemahaman tentang permasalahan sosial didasari pada pengujian teori yang disusun dari berbagai variabel, pengukuran yang melibatkan angka-angka, dan dianalisa menggunakan prosedur statistik. Paradigma ini konsisten dengan apa yang disebut pendekatan kuantitatif, dengan tujuan untuk meramalkan generalisasi suatu teori.

Paradigma yang kedua, konsisten sebagai pendekatan kualitatif (qualitative approach), didefinisikan sebagai :

“… an inquiry process of understanding a social or human problem, based on building a complex, holistic picture, Read the rest of this entry »

Statistik Nonparametrik

In Statistik on May 2, 2008 at 5:00 pm
Written by Raymond Tambunan
Dalam perkembangan psikologi sebagai ilmu, dalam masa yang sangat panjang, bahkan sampai hari ini, psikologi berusaha agar dapat dipandang sebagai pendekatan yang ilmiah. Dalam atmosfer positivistik, salah satu usaha untuk menjadi lebih ilmiah adalah dengan melakukan pengukuran. Artinya, kualitas-kualitas psikologis manusia dicoba untuk diberikan atribut berupa angka, untuk kemudian diolah secara matematis / statistik.

Namun tidak semua kondisi dalam pengukuran psikologi ideal untuk diterapkan pada semua teknik statistik, seperti:

  • banyak aspek psikologis yang sulit dikuantifisir ke dalam skala pengukuran interval apalagi rasio (sulit untuk mengatakan, misalnya, sikap terhadap minuman beralkohol seseorang / sekelompok orang dua kali lebih tinggi dibandingkan orang / kelompok lain);
  • sulit mengasumsikan bahwa variabel psikologis tertentu terdistribusi secara normal.

Oleh karena itu, metode statistik nonparametrik dianggap dapat lebih menjawab kebutuhan dan sesuai dengan kondisi dalam ilmu piskologi.

Namun sebelum membahas tentang metode statistik nonparametrik, terlebih dahulu perlu dipahami tentang apa itu parametrik.

Parametrik

Parametrik mengandung pengertian parameter, yaitu indikator dari suatu distribusi hasil pengukuran. Indikator dari distribusi pengukuran berdasarkan statistik parametrik digunakan untuk menjadi parameter dari distribusi normal. Read the rest of this entry »

DEFINISI DAN KOMPONEN E-LEARNING

In referensiku on May 2, 2008 at 4:26 pm

By: Romi Satria Wahono

Kita mulai dari definisi. Istilah e-Learning atau eLearning mengandung pengertian yang sangat luas, sehingga banyak pakar yang menguraikan tentang definisi eLearning dari berbagai sudut pandang. Salah satu definisi yang cukup dapat diterima banyak pihak misalnya dari Darin E. Hartley [Hartley, 2001] yang menyatakan:

eLearning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan komputer lain.

LearnFrame.Com dalam Glossary of eLearning Terms [Glossary, 2001] menyatakan suatu definisi yang lebih luas bahwa:

eLearning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung Read the rest of this entry »

Pengembangan Konten di Era Web 2.0

In referensiku on May 2, 2008 at 4:24 pm
by Romi Satria Wahono

content-tech-com.gifPada seminar kecil yang diadakan Kementrian Negara Riset dan Teknologi (RISTEK) tanggal 11 April 2008, saya mendapat kesempatan untuk menyampaikan bahasan tentang konten dan bagaimana pengelolaan konten di era dan paradigma baru yaitu Web 2.0. Materi diskusi seputar pengertian tentang konten, masalah publikasi konten di Internet, aplikasi untuk mengelola konten, strategi pengembangan konten dan yang terakhir tentang content monetizing. Diskusi menarik karena dihadiri oleh pak Idwan Suhardi (Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek), pak Engkos Koswara Natakusumah (Staf Ahli Menteri Negara Ristek Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi), pak Kemal Prihatman (Asdep Pengembangan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi), dan pak Agus Sediadi. Tertarik? Ikuti tulisan ini …

Saya mencoba mengkompilasi jenis atau ragam konten menjadi sebagai berikut:

  1. Berdasarkan Media Read the rest of this entry »

Pengembangan Bahan Belajar berbasis Web

In referensiku on May 1, 2008 at 9:23 am

Koesnandar
Kepala Subbidang Pendidikan Menengah dan Tinggi
Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi, Depdiknas

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sangat pesat, menurut catatan www.internetworldstats.com/ saat ini ada satu milyard pengguna internet di dunia. Penetrasi internet di Asia adalah 10%, sedangkan di Amerika mencapai 67%. Indonesia menduduki urutan ke 13 pengguna internet dunia dengan jumlah pengguna internet tahun 2006, sebanyak 18 juta orang. Angka itu mencapai 10 kali lebih besar dibanding lima tahun lalu. Tidak berlebihan apabila ada yang mengatakan bahwa TIK membawa gelombang baru menuju perubahan besar dalam sejarah kebudayaan manusia.

Tinsiri memberi perumpamaan yang sangat baik dalam menghadapi perkembangan TIK. Ia mengatakan, apabila TIK tersebut diibaratkan arus badai, maka setidak-tidaknya ada tiga kemungkinan sikap kita Read the rest of this entry »

Sistem E-Learning Berbasis OpenSource

In referensiku on May 1, 2008 at 9:20 am

Istilah e-Learning mengandung pengertian yang sangat luas, sehingga banyak pakar yang menguraikan tentang definisi e-learning dari berbagai sudut pandang. Berbagai pengertian tentang e-learning saat ini sebagian besar mengacu pada pembelajaran yang menggunakan teknologi internet.Pengembangan E-Learning saat ini berhubungan dengan pengembangan sistem Learning Management System (LMS). Sering disebut LMS ini disebut dengan dengan platform e-Learning atau Learning Content Management System (LCMS). Intinya LMS adalah aplikasi yang mengotomasi dan mem-virtualisasi proses belajar mengajar secara elektronik. Memilih LMS jujur saja gampang-gampang susah, karena banyak faktor yang harus kita perhatikan. Kita bahas yuk gimana teknik memilih LMS yang baik, tentunya yang berbasis open source. Read the rest of this entry »