Psikologi Remaja

Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun (dalam Rice, 1990) mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence).

Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.

Menurut Adams & Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa.

Papalia & Olds (2001) berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.

Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak (Hurlock, 1990; Papalia & Olds, 2001).

Yang dimaksud dengan perkembangan adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan (Papalia & Olds, 2001). Perubahan itu dapat terjadi secara kuantitatif, misalnya pertambahan tinggi atau berat tubuh; dan kualitatif, misalnya perubahan cara berpikir secara konkret menjadi abstrak (Papalia dan Olds, 2001). Perkembangan dalam kehidupan manusia terjadi pada aspek-aspek yang berbeda. Ada tiga aspek perkembangan yang dikemukakan Papalia dan Olds (2001), yaitu: (1) perkembangan fisik, (2) perkembangan kognitif, dan (3) perkembangan kepribadian dan sosial.

Aspek-aspek perkembangan pada masa remaja
Perkembangan fisik
Yang dimaksud dengan perkembangan fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris dan ketrampilan motorik (Papalia & Olds, 2001). Perubahan pada tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi. Tubuh remaja mulai beralih dari tubuh kanak-kanak yang cirinya adalah pertumbuhan menjadi tubuh orang dewasa yang cirinya adalah kematangan. Perubahan fisik otak sehingga strukturnya semakin sempurna meningkatkan kemampuan kognitif (Piaget dalam Papalia dan Olds, 2001).

Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget (dalam Santrock, 2001), seorang remaja termotivasi untuk memahami dunia karena perilaku adaptasi secara biologis mereka. Dalam pandangan Piaget, remaja secara aktif membangun dunia kognitif mereka, di mana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam skema kognitif mereka. Remaja sudah mampu membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih penting dibanding ide lainnya, lalu remaja juga menghubungkan ide-ide tersebut. Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengolah cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru.

Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget (dalam Papalia & Olds, 2001) mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal (dalam Papalia & Olds, 2001).

Tahap formal operations adalah suatu tahap dimana seseorang sudah mampu berpikir secara abstrak. Seorang remaja tidak lagi terbatas pada hal-hal yang aktual, serta pengalaman yang benar-benar terjadi. Dengan mencapai tahap operasi formal remaja dapat berpikir dengan fleksibel dan kompleks. Seorang remaja mampu menemukan alternatif jawaban atau penjelasan tentang suatu hal. Berbeda dengan seorang anak yang baru mencapai tahap operasi konkret yang hanya mampu memikirkan satu penjelasan untuk suatu hal. Hal ini memungkinkan remaja berpikir secara hipotetis. Remaja sudah mampu memikirkan suatu situasi yang masih berupa rencana atau suatu bayangan (Santrock, 2001). Remaja dapat memahami bahwa tindakan yang dilakukan pada saat ini dapat memiliki efek pada masa yang akan datang. Dengan demikian, seorang remaja mampu memperkirakan konsekuensi dari tindakannya, termasuk adanya kemungkinan yang dapat membahayakan dirinya.

Pada tahap ini, remaja juga sudah mulai mampu berspekulasi tentang sesuatu, dimana mereka sudah mulai membayangkan sesuatu yang diinginkan di masa depan. Perkembangan kognitif yang terjadi pada remaja juga dapat dilihat dari kemampuan seorang remaja untuk berpikir lebih logis. Remaja sudah mulai mempunyai pola berpikir sebagai peneliti, dimana mereka mampu membuat suatu perencanaan untuk mencapai suatu tujuan di masa depan (Santrock, 2001).

Salah satu bagian perkembangan kognitif masa kanak-kanak yang belum sepenuhnya ditinggalkan oleh remaja adalah kecenderungan cara berpikir egosentrisme (Piaget dalam Papalia & Olds, 2001). Yang dimaksud dengan egosentrisme di sini adalah “ketidakmampuan melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain” (Papalia dan Olds, 2001). Elkind (dalam Beyth-Marom et al., 1993; dalam Papalia & Olds, 2001) mengungkapkan salah satu bentuk cara berpikir egosentrisme yang dikenal dengan istilah personal fabel.

Personal fabel adalah “suatu cerita yang kita katakan pada diri kita sendiri mengenai diri kita sendiri, tetapi [cerita] itu tidaklah benar” . Kata fabel berarti cerita rekaan yang tidak berdasarkan fakta, biasanya dengan tokoh-tokoh hewan. Personal fabel biasanya berisi keyakinan bahwa diri seseorang adalah unik dan memiliki karakteristik khusus yang hebat, yang diyakini benar adanya tanpa menyadari sudut pandang orang lain dan fakta sebenarnya. Papalia dan Olds (2001) dengan mengutip Elkind menjelaskan “personal fable” sebagai berikut :

“Personal fable adalah keyakinan remaja bahwa diri mereka unik dan tidak terpengaruh oleh hukum alam. Belief egosentrik ini mendorong perilaku merusak diri [self-destructive] oleh remaja yang berpikir bahwa diri mereka secara magis terlindung dari bahaya. Misalnya seorang remaja putri berpikir bahwa dirinya tidak mungkin hamil [karena perilaku seksual yang dilakukannya], atau seorang remaja pria berpikir bahwa ia tidak akan sampai meninggal dunia di jalan raya [saat mengendarai mobil], atau remaja yang mencoba-coba obat terlarang [drugs] berpikir bahwa ia tidak akan mengalami kecanduan. Remaja biasanya menganggap bahwa hal-hal itu hanya terjadi pada orang lain, bukan pada dirinya”.

Pendapat Elkind bahwa remaja memiliki semacam perasaan invulnerability yaitu keyakinan bahwa diri mereka tidak mungkin mengalami kejadian yang membahayakan diri, merupakan kutipan yang populer dalam penjelasan berkaitan perilaku berisiko yang dilakukan remaja (Beyth-Marom, dkk., 1993). Umumnya dikemukakan bahwa remaja biasanya dipandang memiliki keyakinan yang tidak realistis yaitu bahwa mereka dapat melakukan perilaku yang dipandang berbahaya tanpa kemungkinan mengalami bahaya itu.

Beyth-Marom, dkk (1993) kemudian membuktikan bahwa ternyata baik remaja maupun orang dewasa memiliki kemungkinan yang sama untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku yang berisiko merusak diri (self-destructive). Mereka juga mengemukakan adanya derajat yang sama antara remaja dan orang dewasa dalam mempersepsi self-invulnerability. Dengan demikian, kecenderungan melakukan perilaku berisiko dan kecenderungan mempersepsi diri invulnerable menurut Beyth-Marom, dkk., pada remaja dan orang dewasa adalah sama.

Perkembangan kepribadian dan sosial
Yang dimaksud dengan perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan emosi secara unik; sedangkan perkembangan sosial berarti perubahan dalam berhubungan dengan orang lain (Papalia & Olds, 2001). Perkembangan kepribadian yang penting pada masa remaja adalah pencarian identitas diri. Yang dimaksud dengan pencarian identitas diri adalah proses menjadi seorang yang unik dengan peran yang penting dalam hidup (Erikson dalam Papalia & Olds, 2001).

Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan bermain dengan teman (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar.

Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya (Conger, 1991).

Kelompok teman sebaya diakui dapat mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seorang remaja tentang perilakunya (Beyth-Marom, et al., 1993; Conger, 1991; Deaux, et al, 1993; Papalia & Olds, 2001). Conger (1991) dan Papalia & Olds (2001) mengemukakan bahwa kelompok teman sebaya merupakan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan sikap yang berkaitan dengan gaya hidup. Bagi remaja, teman-teman menjadi sumber informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik, musik atau film apa yang bagus, dan sebagainya (Conger, 1991).

Ciri-ciri Masa Remaja
Masa remaja adalah suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik, maupun psikologis. Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja.

  1. Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan sebagai masa storm & stress. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja. Dari segi kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak lagi bertingkah seperti anak-anak, mereka harus lebih mandiri dan bertanggung jawab. Kemandirian dan tanggung jawab ini akan terbentuk seiring berjalannya waktu, dan akan nampak jelas pada remaja akhir yang duduk di awal-awal masa kuliah.
  2. Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. Perubahan fisik yang terjadi secara cepat, baik perubahan internal seperti sistem sirkulasi, pencernaan, dan sistem respirasi maupun perubahan eksternal seperti tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh terhadap konsep diri remaja.
  3. Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain. Selama masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang. Hal ini juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang lebih penting. Perubahan juga terjadi dalam hubungan dengan orang lain. Remaja tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama, tetapi juga dengan lawan jenis, dan dengan orang dewasa.
  4. Perubahan nilai, dimana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-kanak menjadi kurang penting karena sudah mendekati dewasa.
  5. Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Di satu sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan tersebut, serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab tersebut.

Tugas perkembangan remaja
Tugas perkembangan remaja menurut Havighurst dalam Gunarsa (1991) antara lain :

  • memperluas hubungan antara pribadi dan berkomunikasi secara lebih dewasa dengan kawan sebaya, baik laki-laki maupun perempuan
  • memperoleh peranan sosial
  • menerima kebutuhannya dan menggunakannya dengan efektif
  • memperoleh kebebasan emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya
  • mencapai kepastian akan kebebasan dan kemampuan berdiri sendiri
  • memilih dan mempersiapkan lapangan pekerjaan
  • mempersiapkan diri dalam pembentukan keluarga
  • membentuk sistem nilai, moralitas dan falsafah hidup

Erikson (1968, dalam Papalia, Olds & Feldman, 2001) mengatakan bahwa tugas utama remaja adalah menghadapi identity versus identity confusion, yang merupakan krisis ke-5 dalam tahap perkembangan psikososial yang diutarakannya. Tugas perkembangan ini bertujuan untuk mencari identitas diri agar nantinya remaja dapat menjadi orang dewasa yang unik dengan sense of self yang koheren dan peran yang bernilai di masyarakat (Papalia, Olds & Feldman, 2001).

Untuk menyelesaikan krisis ini remaja harus berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa perannya dalam masyarakat, apakah nantinya ia akan berhasil atau gagal yang pada akhirnya menuntut seorang remaja untuk melakukan penyesuaian mental, dan menentukan peran, sikap, nilai, serta minat yang dimilikinya.


Sumber Pustaka

Aaro, L.E. (1997). Adolescent lifestyle. Dalam A. Baum, S. Newman J. Weinman, R. West and C. McManus (Eds). Cambridge Handbook of Psychology, Health and Medicine (65-67). Cambridge University Press, Cambridge.

Beyth-Marom, R., Austin, L., Fischhoff, B., Palmgren, C., & Jacobs-Quadrel, M. (1993). Perceived consequences of risky behaviors: Adults and adolescents. Journal of Developmental Psychology, 29(3), 549-563

Conger, J.J. (1991). Adolescence and youth (4th ed). New York: Harper Collins

Deaux, K.,F.C,and Wrightman,L.S. (1993). Social psychology in the ‘90s (6th ed.). California : Brooks / Cole Publishing Company.

Gunarsa, S.D. (1988). Psikologi remaja. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Gunarsa, S.D. (1990). Dasar dan teori perkembangan anak. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Hurlock, E. B. (1990). Developmental psychology: a lifespan approach. Boston: McGraw-Hill.

Hurlock, E. B. (1973). Adolescent development. Tokyo: McGraw-Hill Kogakusha.

Monks, F.J., Knoers, A. M. P., Haditono, S. R. (1991) Psikologi perkembangan : Pengantar dalam berbagai bagiannya (cetakan ke-7). Yogya: Gajah Mada University Press.

Papalia, D E., Olds, S. W., & Feldman, Ruth D. (2001). Human development (8th ed.). Boston: McGraw-Hill

Rice, F.P. (1990). The adolescent development, relationship & culture (6th ed.). Boston: Ally & Bacon

Santrock, J.W. (2001). Adolescence (8th ed.). North America: McGraw-Hill.

sumber : http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/remaja.html

About these ads

60 thoughts on “Psikologi Remaja

  1. Mas saya sekarang sedang skiripsi dan saya sekarang membutuhkan buku tentang prokastinasi (ferrari) dan Hurlock, E. B. (1973). Adolescent development
    Kalau ada tolong email saya
    Saya mau pesen.

    Terima Kasih Banyak.

  2. “Perubahan nilai, dimana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-kanak menjadi kurang penting karena sudah mendekati dewasa.”

    kok saya dulu pas remaja keknya ngga gitu ya…? hihi…

    mbak fitri mungkin gak mengalami hal serupa mungkin lingkungan yang membuat anda berbeda, sebuah ilmu psikologi sama seperti ilmu sosial yang terus berkembang jadi ada kemungkinan terjadi perubahan, tapi klo di ingat lebih jauh mungkin pernah namun mbak lupa

  3. hai.saya dari Perak, Malaysia.umur 27 tahun dan telah berkahwin.bekerja sebagai guru bimbingan dan kaunseling. saya ingin mendapatkan maklumat berkenaan teori psikoanalisa seperti teknik-teknik hipnotis dan maklumat-maklumat lain yang berkaitan dengan pendekatan tersebut

  4. Aku ingin kawin dengan mu?aku butuh bantuan Proagram Bimbingan Konseling (BK) untuk SMP serta
    RPP & Silabus Tingkat SMP/MTS

    Kesan dari sangat baik broo

  5. hay,,
    aku citra,22,mhswi psikologi n lgi nyusun skripsi, tapi aku terkendala dgn mslh buku2..
    mas, bsa bantuin aku gk??? aku sbnarnya butuh bku2 nie:
    1. Rice, F.P. (1990). The adolescent development, relationship & culture (6th ed.). Boston: Ally & Bacon
    2. Steinberg, L. (1993). Adolescence (3nd ed.). New york: Mc Graw-Hill Inc.
    dmna aku bsa dpetin buku2 nie…???klo mas ada n tw tmpt jualna, kira2 aku bsa pesen gk???
    tolong bgt y mas….
    thanks before…

  6. itu kan psikologi remaja

    gimana psikologi yang masa remajanya tidak terjalani dengan baik dengan kata lain terhambat oleh situasi dan kondisi yang mampu menghalalinginya….

    soal ada sobat aku
    yang masa anak-anak hingga remajanya terampas
    dan aku ingin tolong/bantu dia….

    aku tidak tahu cara bantu dia…..?

    tolong donk gimana solusinya untuk membantu dia….?

    Trims…..

  7. numpang gabung yach…

    knapa hanya dijelaskan hal-hal yang sifatnya umum dan memang sudah populer,,,

    tolong donk jelaskan kepada kami perihal orientasi masa depan pada remaja berdasarkan teori dan kemampuan yang anda kuasai…

    makasih yach sebelumny…

  8. Dear ..
    saya ingin bertanya bagaimana caranya menghadapi atau membantu menyembukan prilaku keponakan saya.

    Keponakan saya berusia 14 th kelas 1 SMU, yg memiliki riwayat panjang tentang para pengasuh nya, kini ia bersikap sering berbohong,over nakal, dan amat berani melakukan sesuatu di luar rasional manusia,

    Apakah saya bisa di kirimi silabus mengenai biaya dan waktu untuk konseling psikology
    Saya ingin sekali bisa membantu ponakan saya karena ia cukup pintar

  9. Tolong donk Mas, bahas berdasarkan teori, aspek-aspek orientasi masa depan pada remaja tuh apa aja, trus faktor-faktor yang mempengaruhinya juga… kalau bisa kasi referensi buku-bukunya juga Mas… Please…butuh banget soalnya!mkch…

  10. terima kasih atas informasi nya diatas. itu sangat membantu. kalau bisa sih di tambah lagi agar lebih lengkap informasi tentang remaja diatas ya…. bisa tidak tambah tentang remaja dan orientasi masa depannya. ada tugas dari dosen sih…

  11. Saya akan menulis disertasi tentang siswa SMP, terkait dengan desain interior sarana pembelajarannya. Apa sebenarnya yang bisa saya pakai landasan sehingga memulainya dari siswa SMP, buka siswa SD atau SMA. Mohon bantuan dan terima kasih.

  12. Profesi saya sebagai guru pembimbing di SMP, bagi saya informasi seperti ini sangat penting untuk tambahan pengetahuan secara pribadi bt saya sehingga saya bisa membantu perkembangan psikologis bagi anak didik saya, terutama pemberian konseling yang efektif untuk permasalahan-permasalan yang sering muncul pada remaja. untuk itu mohon bantuannya informasikan mengenai remaja dan permasalahanya termasuk solusi yang terbaik bagi remaja

  13. terima kasih atas kunjungannya
    Anda bisa konsultasikan langsung dengan saya via telpon
    itu yang disebut diskusi profesional
    semoga bisa bermanfaat
    sukses

  14. Salam kenal sebelumnya,

    Ma’af kalau menyimpang dari jalur. Saya seorang Ibu rumah tangga yang membutuhkan banyak informasi mengenai psikologi remaja, khususnya tentang prilaku anak yang selalu berbohong dan menjelek – jelekkan saudaranya sendiri. Mungkin ada buku yang bisa saya beli atau dimana saya bisa berkonsultasi karena kami tinggal di Papua. Terima kasih sebelumnya

  15. dengan senang hati kenal dengan ibu
    bila ingin konseling silahkan hubungi Eko Susanto founder Konseling Center Indonesia di 0813 691 498 53
    terima kasih

  16. Gw punya masalah nih gw dah umur 26+ tp kok blm ada tanda” ke perubahan remaja n tubuh gw masih spt anak anak. Ada yg tau knp bisa gitu?

  17. hm…
    maaf saya gak bisa bantu banyak
    referensi yang saya punya cuma itu
    terima kasih atas pengertiannya
    sukses

  18. Bagaimana cara membentuk emotional bonding yang kuat antara orangtua dengan anak usia remaja padahal masa ini adalah masa dimana mereka justru bisa dikatakan jauh dari orangtua dan lebih nyaman bersama peer group nya? Terima kasih.

  19. upaya untuk jauh dari orang tua yg ada pada diri remaja merupakan sebuah kecenderungan saja seiring dengan kedewasaannya mereka akan berpikir betapa bernilainya orang2 yang ada disekitar mereka (keluarga), yang pernah saya ujicoba kan pada beberapa klien adalah dengan memberikan kepercayaan kepada mereka tetapi tetap melakukan kontrol terhadap perilaku baru yang dipelajari dari peer groupnya, kalau dilarang maka akan maka dapat memunculkan defence dalam diri nya.
    jadi buat mereka betah ada dirumah gak pake dimarah, terus jalin komunikasi yang baik, beri tanggungjawab untuk mengurus pekerjaan dirumah misal membersihkan kamar sendiri/mengepel lantai sekali seminggu, beri reward untuk perilaku yg positif.
    perlakuan dapat berbeda2 untuk setiap anak tergantung pada karakteristik kepribadian mereka.
    he…
    semoga bermanfaat

  20. makasih iaa ma informasi psikologi remajanya .sangat membantu ku dlam bdang KTI yg lggi bhas nii.. heheheheheee :D

  21. minta maaf aja dengan cara yang baik
    yang penting anda telah meminta maaf
    dia memaafkan atau tidak bukan urusan kita lagi
    itu dah urusan dia dengan penciptanya

    sukses

  22. kemampuan komunikasi cenderung bersinggungan dengan bakat
    dapat dimungkinkan Anda mengalami kesulitan beradaptasi
    silahkan diskusikan bersama saya via email atau telpn

    makasih

  23. ehm…..salam kenal ya ^_^….
    seblumnya saya pengen nayak aja…sebenarnya kenapa sih masa remaja itu cenderung dikatakan masa-masa yang sngat rawan,baik dari perkembangan segi psikologinya dan yang lainnya….n bagaimana cara mengatasi kemungkinan masalah2 negatif yg dpat trjadi pada masa tersebut….
    makasih sebelumnya….

  24. tolong dong mas saya punya anak umur 14 tahun,dia suka berbohong,membangkang,kalo di nasehatin manggut2 setuju tapi besok ad aja lagi yang di lakukannya.

  25. yang perlu dilakukan adalah
    mainset pikiran kita klo mereka juga punya kesempatan seperti anak normal
    beri perhatian yang mendalam
    jalin komunikasi yang intens berkenaan dengan tugas perkembangannya dimasa remaja, komunikasikan dengan baik hal-hal yg mungkin akan ditemuinya pada masa puber
    sabar dan ikhlas dalam mendidik, mereka juga memiliki sensitifitas emosi jadi ada kemungkinan mereka juga dapat hidup sebagaimana anak remaja pada umumnya

  26. ma’f, sya mau mnta pndapatnya, gmana crnya spya mdah untk melupakan se”orang dg mdah, soalnya sya udh 2x mrsakan hal sma

  27. pak tanya… gimana caranbya biar remaja yang bertipe melankolis bisa punya hati yang longgar dan berani untuk berkomunikasi dengan orang terdekat? tq

  28. perkembangan emosinyaa remaja apa ada pembahasannya sendiri,, kok dikit banget di muatnya.,,,

  29. Artikelnya persis yang dialami semua orang tua yang punya anak remaja, tapi sayang buanyak guru2 smp maunya instant , anak didiknya sempurna dan mereka bisa tiduran dan dianggap berhasil, terima Gaji + sertifikasi,…Harusnya guru2 belajar konseling secara rutin, bukan hanya BP aja…Bukan buka les untuk tambahan beli lombok trasi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s